Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Agustus 2012
KETRAMPILAN PROSES
Oleh: Drs.
Marsudi, M.Pd.
|
Keterampilan
|
Meliputi
|
|
1. Mengobservasi
(mengamati) menggunakan 5 indera kita
|
a. Membedakan
b. Menghitung
c. Mengukur: suhu, panjang,
luas, berat, waktu
|
|
2. Mengklasifikasi
|
Menggolong-golongkan
atas dasar aspek-aspek tertentu, mengurutkan atas dasar aspek tertentu serta
kombinasi antara menggolongkan dan mengurutkan
|
|
3. Mengiterpretasi
|
Termasuk
mengiterpretasi data, grafik, maupun mencari pola hubungan yang terdapat
dalam pengolahan data
|
|
4. Memprediksi
|
Termasuk
membuat ramalan atas dasar kecenderungan yang terdapat dalam pola data yang
telah di dapat
|
|
5. Keterampilan membuat
hipotesis
|
Kemampuan
berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum
pada ilmu yang telah dikenal
|
|
6. Mengenal variabel
|
Variabel
Manipulasi, Variabel Respon
|
|
7. Mengendalikan variabel
|
Yaitu upaya
untuk mengisolasi variable yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada
hasil eksperimen dapat di minimalisir, supaya eksperimen tersebut tidak
terjadi penyimpangan hasil
|
|
8. Definisi operasional
variabel
|
Menunjukkan
bagaimana variable dalam eksperimen tersebut diukur, sehinga bila eksperimen
tersebut dilacak orang lain hasilnya tetap
|
|
9. Merencanakan dan
Melakukan penelitian
|
Eksperimen
yang meliputi: Penetapan masalah, membuat hipotesis, membuat rancangan
penelitian, menguji hipotesis, membuat tabel data, membuat grafik data
|
|
10. Inferensi atau
menyimpulkan
|
Yaitu
kemampuan menarik kesimpulan dari hasil pengolahan data
|
|
11. Menerapkan atau Aplikasi
|
Menggunakan
konsep atau hasil penelitian ke dalam perikehidupan sehari-hari dalam
masyrakat
|
|
12. Keterampilan
Mengkomunikasikan
|
Yaitu
kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan pengetahuannya dari hasil pengamatan
maupun hasil penelitiannya baik secara lisan maupun secara tertulis
|
Minggu, 12 Agustus 2012
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
Oleh
: Marsudi
(Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Unesa)
1. Pendahuluan
Bayangkan pada baju yang
kita pakai sehari-hari. Untuk menjadi baju tentunya ada petani yang menanam
kapas, atau petani yang memelihara ulat sutera. Dari kapas atau kepompong ulat
sutera ada lagi orang yang memintalnya menjadi benang. Untuk merwarnai benang
tetunya ada orang yang spesialis membuat zat pewarna. Selanjunya benang
tersebut ditenun orang menjadi kain. Oleh penjahit baru dipotong dan dijahit sehingga
menjadi baju. Dalam kenyataan hidupnya manusia tidak bisa hidup sendiri mereka
harus bergotong royong. Oleh karena itu gotong royong harus dikenalkan pada
siswa, karena mereka nantinya merupakan bagian dari masyarakat. Adapun untuk
memperkenalkan keterampilan-ketrampilan sosial ini, dipergunakan model
pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran yang akhir-akhir ini sangat populer. Beberapa ahli menyatakan
bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep yang sulit, tetapi juga sangat membantu siswa
menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis, kemauan membantu teman
kelompok dan sebagainya.
2. Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif
merupakan ide lama. Semenjak abad pertama setelah masehi, para filosof sudah
mengemukan bahwa agar seseorang belajar, dia harus memiliki teman belajar.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa
akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka
dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya (Slavin,
1995: 227).
Di dalam kelas kooperatif
siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang
siswa, campuran siswa berkemampuan tinggi, sedang, rendah, jenis kelamin dan
suku/ras (heterogen) serta saling membantu satu sama lain. Selama belajar secara kooperatif siswa tetap
tinggal dalam kelompoknya selama beberapa minggu. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan
khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti
menjadi pendengar yang aktif, memberi penjelasan kepada teman sekelompok dengan
baik, berdiskusi, dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, siswa diberi
lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk
diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai
ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman sekelompok
mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam
kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
Agar pembelajaran kooperatif
dapat berjalan secara efektif, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang
perlu ditanamkan kepada siswa adalah sebagai berikut (Lundgren L, 1994: 5).
Jumat, 10 Februari 2012
Pengelolaan Kelas
Sekolah
sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat
paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan untuk
kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi
bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai
total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada
penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing
sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara
kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Oleh
karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle
manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting,
karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing
yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan,
setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus
didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi
bagian yang dinamis di agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian
yang dinamis di dalam organisasi sekolah.
https://docs.google.com/open?id=0B52h6ZJFEb30NzNiOGU0NTgtMmExMi00Nzg1LTkwZDYtZGUwNTY5MWVkZmNm
Minggu, 05 Februari 2012
Kompetensi Guru Indonesia
Kompetensi berasal dari bahasa
Inggris competency yang berarti kecakapan, kemampuan dan wewenang.
Seseorang dinyatakan kompeten di bidang tertentu jika menguasai kecakapan
bekerja pada satu bidang tertentu. Menurut Nana Syaodih (1997) kompetensi
adalah performan yang mengarah kepada pencapaian tujuan secara tuntas menuju
kondisi yang diinginkan.
Kompetensi guru harus mempunyai
karakteristik tertentu. Guru dalam proses belajar mengajar
harus memiliki kompetensi tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan
dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada
khususnya. Untuk memiliki kompetensi tersebut guru perlu membina diri secara
baik karena fungsi guru itu sendiri adalah membina dan mengembangkan kemampuan
peserta didik secara professional di dalam proses belajar mengajar.
Berikut beberapa tulisan tentang kompetensi guru yang dihimpun dari beberapa blog terkait.
Semoga bermanfaat. Amin
Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Sosial
Kompetensi Profesional
Langganan:
Postingan (Atom)
